Kapasitas dan Kualitas Pertahanan Sejak Mobilisasi Militer Parsial Ke Ukraina


Ростехнологии

Mengenai Pemberitaan tentang pernyataan Mobilisasi parsial Rusia yang baru-baru ini telah diumumkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, Raksasa industri pertahanan milik negara Rusia, "Rostech" akan memenuhi permintaan sekaligus memproduksi perangkat keras dalam meningkatkan berlangsungnya Militer ditengah Mobilisasi parsal, dan keputtusan manejeman ini sudah dipublikasikan serta telah disepakati pada hari rabu kemarin.

“Saat ini, banyausahaan Rostech telah memperkenalkan kondisi operasi khusus: Seluruh karyawan telah mengambil bagian untuk kerja lembur sampai pada di akhir pekan,” kata Rostech dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa mereka juga akan “meningkatkan kapasitas serta kualitas produksinya agar dapat  memenuhi tujuan” yang ditetapkan oleh Moskow.

Diwaktu yang bersamaan, Kementerian Pertahanan juga telah merekomendasikan agar penarikan tentara cadangan dapat segera diaktifkan untuk persiapan pasukan di tengah konflik berkepanjangan di Ukraina dan Donbass.
Korporasi juga menyatakan bahwa ini sesuai dengan harapannya dimana, “kontribusi bersama yang dilakukan akan membantu tujuan Rusia menang dan keluar sebagai pemenang.”

Di bawah program pengadaan dan akuisisi pertahanan negara, Rostech bertanggung jawab atas 40% dari semua kontrak akuisisi pertahanan, kata perusahaan itu. Ростехнологии Raksasa industri pertahanan itu antara lain memproduksi pesawat tempur, sistem artileri, senjata presisi tinggi, perangkat komunikasi, dan sistem peperangan elektronik radio.

Menurut Menteri Pertahanan Sergey Shoigu, mobilisasi akan melibatkan panggilan untuk mempersenjatai sekitar 300,000 tentara cadangan, atau lebih dari 1% dari potensi mobilisasi penuh Rusia.

Sebelumnya mengutip, dari kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk, Rusia telah mengirim pasukan ke Ukraina sejak pada 24 Februari lalu (Diawal Invansi), yang sengaja dirancang untuk memberikan status khusus diwilayah Donetsk dan Lugansk di dalam negara Ukraina.

Sebelumnya pada tahun 2014, Jerman dan Prancis telah melakukan pertama kali kesepakatan serta menandatangani Protokol, Mantan presiden Ukraina Pyotr Poroshenko sejak itu telah  menyampaikan tujuan utama di Kiev adalah di gunakan sebagai kawasan gencatan senjata, serta untuk mengulur waktu sehingga “menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.”

Pada Februari 2022, Kremlin mengakui republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral, yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer Barat mana pun. Kiev menegaskan saat ini serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama